Jalan yang Berbeda
July 1st, 2007 by goenprastmengingat, mengenang
semua jalinan cerita
sakit, perih
menahan…
segala beban di hati
tangis,sedih
mengiring…
akhir kisah indah
dan kini, jika jalan kita tlah berbeda
-Jakarta, 1 Juli 2007, 12:22 AM-
sakit, perih
menahan…
segala beban di hati
tangis,sedih
mengiring…
akhir kisah indah
dan kini, jika jalan kita tlah berbeda
-Jakarta, 1 Juli 2007, 12:22 AM-
e-liye. Sebelumnya saya juga pernah membaca "HafalanNovel ini diilhami dari salah satu kisah nyata yang
paling mengharukan, dan ditulis kembali dari salah satu film terbaik
sepanjang masa. Novel ini bercerita tentang anak kecil yang bernama
Melati, yang pada umur tiga tahun mengalami kecelakaan kecil yang
menyebabkan ia tidak bisa melihat alias buta, tidak bisa mendengar
alias tuli, dan tidak bisa berbicara alias bisu. Saya sendiri pun tidak
bisa membayangkan kejadian tersebut, karena jarang sekali seseorang
yang mempunyai cacat mata dan telinga sekaligus dari kecil. Jika
seseorang buta, maka ia masih mempunyai telinga yang bisa digunakan
untuk berkomunikasi dengan dunia. Jika seseorang tuli (jika cacat dari
kecil, biasanya juga bisu), maka ia masih mempunyai mata untuk
berhubungan dengan dunia luar. Namun jika cacat buta, tuli, dan bisu
bersinergi maka otomatis hampir semua akses untuk berhubungan dengan
dunia luar pun akan tertutup. Demikian juga dengan yang menimpa Melati,
gadis kecil yang diceritakan dalam novel ini.
Perkembangan dunia
anak yang begitu lamban dari seorang melati ini, terjadi tiga tahun
lamanya, hingga akhirnya Bunda (ibunya Melati) bertemu dengan Karang
(red -mantan anak jalanan yang sangat mencintai anak-anak dengan masa
lalu yang begitu menyesakkan karena suatu kejadian dalam hidupnya yang
membuatnya merasa bersalah sepanjang sisa hidupnya). Lewat tangan
Karang inilah, Allah berkenan menunjukkan segala kuasa-Nya kepada
Melati agar manusia bisa mengambil pelajaran dari garis hidup yang
mungkin terkesan bagi sebagian manusia bahwa Allah itu tidak adil.
Melalui bimbingan Karang inilah, akhirnya Melati bisa makan make
sendok, duduk di kursi, dan akhirnya dapat mengenal dunia lewat telapak
tangannya.
Mungkin juga, sebagian dari kita pernah menyaksikkan
peristiwa yang sejenis di sekitar kita. Dan mungkin juga ketika salah
satu di antara kita meliahatnya, timbul sebuah prasangka yang
mempertanyakan keadilan Allah. Tapi satu hal yang harus menjadi satu
keyakinan kita…..
bahwa
Allah adalah Maha Adil, apapun yang terjadi Allah adalah Maha Adil.
Mungkin kita saja yang tidak pernah mengerti di mana letak keadilan
Allah. Mungkin karena kita terlalu bodoh untuk memahami keadilan
tersebut, dan yang pasti bukan karena Allah tidak Adil.
Novel
ini sangat bagus bagi siapapun yang menginginkan sebuah pencerahan jiwa
yang mungkin kekeringan karena aktivitas dunia yang begitu menyibukkan,
hingga terkadang membuat kita terlupa bahwa suatu saat, kita akan
kembali pada-Nya.
Thanks buat tere-liye yang Allah memberikan kemampuan lebih untuk memberikan hikmah
lewat tulisan. Ditunggu karya-karya selanjutnya..
Sehabis Isya’, 17 Juni 2007, at office
Yang berikut ini adalah beberapa resep pengobatan dengan menggunakan ramuan pisang :
Kayaknya seberapa panjang pun tulisan saya tak kan pernah cukup untuk
mengupas manfaat pisang. Well….mungkin setelah saya tahu khasiatnya
yang begitu banyak, mulai detik ini juga perlu dibuatkan jadwal khusus
untuk makan pisang. Gimana dengan anda???
Diolah dari berbagai sumber
Jakarta, 13 Juni 2007, 06:10 WIB @ kantor

Tetep maju karya sastra Indonesia!!
Bandung, 9 Juni 2007, 19.21 WIB
Yang tlah
berlalu biarlah berlalu. Meskipun sesuatu yang hilang itu begitu
berharga untuk dilepas. Tapi toh semuanya milik Allah. Allah berhak
mengambilnya kapan saja. Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik.
Akan
selalu ada bagian hati yang selalu tersenyum untuk menyambut mentari
esok. Akan selalu ada semangat untuk menjalaninya. Semoga…
Teriring
rasa terima kasih teruntuk ayah dan bunda, yang di setiap desahan nafas
terucap selantun doa untukku. Dan juga untuk sahabar-sahabat tersayang..
Bandung, 2 Juni 2007, 16.35 WIB
Semua itu harus berakhir….
Entah…skenario
hidup apa lagi yang Allah akan jalankan. Sesuatu yang menurut saya
baik, ternyata belum tentu baik di hadapan Allah Sang Maha Kuasa. Tapi
saya hanya punya keyakinan, Allah pasti punya maksud di balik semua hal
yang ditimpakan pada saya. Saya hanya yakin, apapun yang diberikan
Allah, itulah yang terbaik untuk diri ini. Semoga suatu saat masih ada
kesempatan untuk mengambil hikmah dari peristiwa itu.
Allah sedang mengujiku dengan peristiwa itu..
Senin, 21 Mei 2007, 00.53 WIB
hanya sesimpul senyum dan air mata kebahagiaan
beserta selantun doa dengan sepenuh pengharapan
yang terucap bersama langkah
menuju peraduanku di sana
dengan sepenuh hati
:: perjalanan Gemolong - Jakarta, 15 Mei 2007, menjelang Ashar ::
jika mentari esok masih kuasa bersinar
di qalbu terangkai harap
malam ini kan berlalu lebih panjang
karna masih terbesit harap tuk menjalin cerita
tentang
separuh jiwaku yang tlah terisi dirimu
tentang segenap cita dan doa tuk meretas hari esok
bersama, berdua…
bi’idznillah
teriring rintik hujan, bersama sebuah harap;
bimbing kami ya Allah…
Gemolong, 14 Mei 2007, 23.14 WIB
06.58 AM
Alhamdulillah, bisa nyampe dengan selamat dan tanpa kekurangan suatu apapun. Nyampe di kostan mas Noor,
langsung rebahan. Penginnya sih bikin kopi biar badam bisa seger lagi,
tapi ternyata ga ada air panas yang tersisa di termos
(hiks…sedihnya). Akhirnya cuma bisa ngidupin TV ngeliat berita pagi.
Parahnya, justru malah ketiduran sampe jam setengah dua belas siang.
12.46 PM
Keluar dari kostan, trus nyari makanan. Sialnya, saya ga tau warung
makan yang ada di deket kostan itu. Mana saat itu perut bener-bener
lagi dilanda kelaparan yang amat sangat. Baru keluar 50 meter, ternyata
di pinggiran Jalan Gatot Subroto, ada grobak dorong yang jual makanan.
Yach…daripada ga makan sama sekali, akhirnya beli mie kethoprak buat
ngisi perut ama sebotol aqua. Abis makan, saya pergi ke tempat saudara
di daerah Kali Deres. Jauh banget sih, tapi karena ada transjakarta,
jadi lebih enak dan bisa nikmatin perjalanan. Karna blm hafal semua
rute di Jakarta, dari Kuningan naek Kopaja 66 turun di Polda. Trus dari
Polda naek busway yang ke arah Kota, turun di Harmoni, dan pindah
koridor yang ke arah Kalideres.
03.44 PM
Pas masih ditempat sodara, dapet telpon yang ngingetin interview esok
harinya (thanks mbak Desy….dah mo ngingetin lagi). Berhubung hari dah
mo sore, saya mutusin tuk balik lagi ke kostan, selain untuk
menghindari macet jam pulang kantor.
05.12 PM
Pas lagi naek busway yang ke arah Kuningan, dapet telpon lagi yang
ngasih tau kalo interview diundur lagi jadi hari kamis (10 mei 2007)
jam 09.30 AM di tempat yang sama dikarenakan yang bakal ngewawancarain
ada rapat mendadak esok harinya. Fiuhhh…
Selasa, 8 mei 2007
07.35 AM
Setelah saya tau kalo interview diundur jadi kamis, saya mutusin untuk
balik lagi ke Bandung. Meski sebenernya sayang juga di biaya. Namun ada
beberapa hal yang harus diselesaiin di Bandung. Sekalian ambil beberapa
barang yang mo dibawa pulang ke Solo.
11.25 AM
Bis Prima Jasa jurusan Jakarta - Garut yang saya tumpangi,
alhamdulillah nyampe di Bandung. Seperti biasa, turun di tol Buah Batu,
trus naek angkot ke PGA. Nyampe PGA langsung makan pagi sekaligus
merangkap makan siang.
Rabu, 9 mei 2007
04.05 PM
Persiapan buat pulang ke Solo dah siap. Tiket travel buat ntar jam 7
malem juga dah beres, setelah tadi nitip Nicin ama Bagrul yang lagi ke
kota. Insya Allah, akan ada beberapa agenda dan kegiatan yang harus
dijalankan selama beberapa hari mendatang di Jakarta dan Solo.
Besok jam setengah sepuluh pagi ada interview dengan beberapa orang.
Moga Allah kasih kelancaran dan kemudahan dan hasil yang terbaik. Saya
cuma yakin, kalo emang udah rezeki, ga akan kemana, asal saya udah
berusaha sebaik-baiknya dan yang paling penting ga pernah henti tuk
berdoa.
Besok sore, selesai interview saya akan melanjutkan perjalanan panjang
ke Solo. Ada beberapa keperluan keluarga, mungkin juga bakal ada
pertemuan bilateral..hehe…. Dan yang pasti, ada KERINDUAN yang akan terobaati setibanya di kampung halaman. Semoga Allah meridhoi jalan ini.
demi cinta
karna cinta itu adalah rasa
ia ibarat tanaman
yang harus selalu dipupuk
dan dirawat
agar senantiasa bersemi dalam hati
Itulah sepenggal puisi yang sempat tertulis di notepad komputerku. Dan
"demi segenggam berlian" (minjem istilah sobatku Ardhian) pula saya
bisa bertahan….dan akan terus berjalan.
Bandung - Jakarta - Solo …..it’s a long journey..
rinduku..
bagai embun yang menelusup celah pagi
mengukir kesejukan di prasasti hati
kan kujaga
hingga sang mentari menghapusnya
rinduku…
bagai api yang bergelora
tak kan kubiarkan ia membakar
namun tak terbiarkan jua tuk padam
cukup dijaga saja
abadi menentramkan
Bandung, 2 Mei 2007, 11:19 WIB
–saat rasa rindu itu kembali membuncah–