Moga Bunda disayang Allah
Sunday, June 17th, 2007ini saya menamatkan lagi satu novel. Novel ini adalah satu di antara
sekian puluh novel yang tlah saya baca. Judulnya "Moga Bunda Disayang
Allah" karya ter
e-liye. Sebelumnya saya juga pernah membaca "HafalanSholat Delisa" dan "Rembulan Tenggelam di Wajahmu" dari pengarang yang
sama. Kali ini juga untuk kesekian kali, saya merelakan air mata jatuh
ke bumi.
Novel ini diilhami dari salah satu kisah nyata yang
paling mengharukan, dan ditulis kembali dari salah satu film terbaik
sepanjang masa. Novel ini bercerita tentang anak kecil yang bernama
Melati, yang pada umur tiga tahun mengalami kecelakaan kecil yang
menyebabkan ia tidak bisa melihat alias buta, tidak bisa mendengar
alias tuli, dan tidak bisa berbicara alias bisu. Saya sendiri pun tidak
bisa membayangkan kejadian tersebut, karena jarang sekali seseorang
yang mempunyai cacat mata dan telinga sekaligus dari kecil. Jika
seseorang buta, maka ia masih mempunyai telinga yang bisa digunakan
untuk berkomunikasi dengan dunia. Jika seseorang tuli (jika cacat dari
kecil, biasanya juga bisu), maka ia masih mempunyai mata untuk
berhubungan dengan dunia luar. Namun jika cacat buta, tuli, dan bisu
bersinergi maka otomatis hampir semua akses untuk berhubungan dengan
dunia luar pun akan tertutup. Demikian juga dengan yang menimpa Melati,
gadis kecil yang diceritakan dalam novel ini.
Perkembangan dunia
anak yang begitu lamban dari seorang melati ini, terjadi tiga tahun
lamanya, hingga akhirnya Bunda (ibunya Melati) bertemu dengan Karang
(red -mantan anak jalanan yang sangat mencintai anak-anak dengan masa
lalu yang begitu menyesakkan karena suatu kejadian dalam hidupnya yang
membuatnya merasa bersalah sepanjang sisa hidupnya). Lewat tangan
Karang inilah, Allah berkenan menunjukkan segala kuasa-Nya kepada
Melati agar manusia bisa mengambil pelajaran dari garis hidup yang
mungkin terkesan bagi sebagian manusia bahwa Allah itu tidak adil.
Melalui bimbingan Karang inilah, akhirnya Melati bisa makan make
sendok, duduk di kursi, dan akhirnya dapat mengenal dunia lewat telapak
tangannya.
Mungkin juga, sebagian dari kita pernah menyaksikkan
peristiwa yang sejenis di sekitar kita. Dan mungkin juga ketika salah
satu di antara kita meliahatnya, timbul sebuah prasangka yang
mempertanyakan keadilan Allah. Tapi satu hal yang harus menjadi satu
keyakinan kita…..
bahwa
Allah adalah Maha Adil, apapun yang terjadi Allah adalah Maha Adil.
Mungkin kita saja yang tidak pernah mengerti di mana letak keadilan
Allah. Mungkin karena kita terlalu bodoh untuk memahami keadilan
tersebut, dan yang pasti bukan karena Allah tidak Adil.
Novel
ini sangat bagus bagi siapapun yang menginginkan sebuah pencerahan jiwa
yang mungkin kekeringan karena aktivitas dunia yang begitu menyibukkan,
hingga terkadang membuat kita terlupa bahwa suatu saat, kita akan
kembali pada-Nya.
Thanks buat tere-liye yang Allah memberikan kemampuan lebih untuk memberikan hikmah
lewat tulisan. Ditunggu karya-karya selanjutnya..
Sehabis Isya’, 17 Juni 2007, at office
