doa seorang pengantin
Saturday, March 31st, 2007postingan temen di sebuah milis. Mungkin bagi sebagian orang artikel
ini biasa aja, tapi bagi saya ini adalah gambaran sebuah doa yang tulus
yang terucap dari mulut seseorang dan sebuah usaha yang gigih untuk
menjaga kesuciannya hingga datang waktu itu tiba (red –pernikahan).
Subhanallah….Allah memberikan permasalahan yang begitu kompleks dalam
kehidupan manusia, yaitu dengan diberikannya hawa nafsu. Akan tetapi
Allah juga memberikan solusi yang begitu indah dari persoalan tersebut
yaitu pernikahan. Harapannya semoga ini dapat bermanfaat, dan
masing-masing dari diri kita dapat menjaga kesucian hati dan kelurusan
niat hingga saatnya Allah mempertemukan kita dengan pendamping hidup
kita masing-masing. Amien…
=============================
Doa Seorang Calon Pengantin
Kalaulah
ada kisah di zaman dahulu bahwa ada satuorang di antara tiga orang yang
bisa bertawasul dengan amalannya untuk bisa membuka batu yang
menghimpit pintu gua, maka aku tertarik dengan tawasulnya. Demi untuk
menghindari zina dengan perempuan yang diberinya uang dengan tebusan
tubuhnya walaupun ia mudah melakukannya. Kalaulah ada kisah tentang
pernikahan dan syarat maharnya, maka kisah Ummu Sulaim yang merelakan
keIslaman Abu Tholhah adalah sungguh mengharukan. Dan juga
kesederhanaan Ali ra menikahi Fathimah dengan baju besinya. Saksikanlah
ya Robbi, aku pun ingin menjadi Ummu Sulim dan Fathimah. Keduanya tidak
mensyaratkan emas dan berlian sebagai penebusan kehalalan calon suami
menyentuh tubuhnya. Cukup dengan hafalan surat Ar-Rahman dan tafsir
Ibnu kastir. Itupun masih dengan keringanan, tafsirnya boleh dicicil
setelah kami menikah nanti.
Saksikanlah ya Robbi..aku pun ingin
mencontoh sang lelaki yang terjebak di gua tadi. Aku pun ingin
bertawasul dengan upayaku untuk menghindari zina. Walaupun peluang ke
sana sangat mungkin.
Banyak lelaki yang mengincarku sejak
wajahku memancarkan pesonanya di bangku SMA. Tapi aku takut untuk
pacaran. Aku bertekad bahwa cinta yang satu itu hanya kuberikan pada
lelaki yang halal untuk memuaskan libidoku dan menjadi salah satu
pembuka jalan menggapai surga-Mu. Maka saat kuputuskan setelah
hari-hari berkonsultasi dalam sujud-sujud istikharah 3 bulan yang lalu
untuk mengucapkan "ya", aku berusaha untuk tidak mendapat murka-Mu,
dengan berlama-lama dalam waktu atau menunda-nundanya, sehingga
terjebak dalam rimba cinta tanpa status dan fitnah dunia. Pun
kuberusaha menangkis serangan kata-kata romantisnya untuk ditunda
hingga saat dia menucapkan "qobiltu nikahaha." (kuterima nikahnya).
Maaf
ya Allah, jika hari ini aku harus banjir air mata, saat aku baru bisa
menjawab pertanyaan orangtuaku, "Kamu punya uang tho untuk menikah?".
"Ya insya Allah diusahakan dan mohon waktunya."
Walaupun aku
tahu sekarang hanya beberapa lembar puluhan ribu hasil sisa kas bon di
tempat kerjaku yang kupersiapkan untuk bekal sisa bulan ini. "Pokoknya
minimal 6-7 juta harus ada lho, ya", begitu suara ibu di sebrang
memberi batas minimal dana yang harus kusediakan.
Ya..Rozak aku
yakin Engkau Maha kaya untuk tidak sampai membuatku merepotkan kedua
orangtuaku, membebani saudara-saudaraku atau mengemis pada sesuatu
selain-Mu. Aku masih percaya ya Allah.kalau pernikahan ini juga sebagai
upaya menolong agama-Mu, maka hamba yakin engkau mau menolongku. Hamba
masih yakin dengan hadist Qudsi yang berbunyi "Bahwa Allah malu jika
tidak mengabulkan permintaan hamba-Nya yang menengadahkan tangan di
sepertiga malam terakhir". Aku tidak ingin berujung pada keputus-asaan.
Ya
Rahman..ya Rahim. Jika memang pernikahan ini akan semakin membuat
Engkau meridhaiku, maka mudahkan dan lancarkan. Dan satukanlah kami dan
jalinan kasih yang sakinah, mawaddah wa rahmah.
Amien.



