Archive for November, 2006

over 22 years old

Tuesday, November 28th, 2006
Demi masa.

Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

(Q.S Al ‘Ashr)

Itulah waktu, yang ibarat mata pedang, jika kita tidak dapat menggunakan dengan baik, maka bersiaplah celaka karenanya. Pun begitu dengan waktu yang telah terlewat. Ia tak mungkin kembali lagi, tak mungkin dapat diraih lagi.
Merenungi waktu, membuatku melayang tinggi melintasi berjuta dimensi hidup yang pernah aku lalui. Di sanalah terukir perjalanan panjang hidup yang entah kapan akan berakhir.
Tanpa sadar, beberapa hari yang lalu tepatnya 23 November 2006, Allah menggenapkan usiaku untuk yang ke-22. Ngeri…. karena itu berarti jatah usiaku di dunia tlah berkurang satu tahun lagi. Dan artinya semakin dekatlah aku dengan suatu masa yang akan menjadi putuskan segala kenikmatan yang ada di dunia, yaitu MAUT.
Sementara diri ini belum siap jika dihadapkan pada hari itu.
Sementara amalan ini belumlah cukup untuk menebus sekian banyak dosa yang kuperbuat.

Wahai Allah,
panjangkanlah umurku jika dengannya hamba dapat berbuat amalan kebaikan lebih banyak lagi.
namun sebaliknya,
pendekkanlah umurku jika dengannya hamba dapat mengurangi amalan burukku

22 tahun bukanlah umur yang muda lagi. Semakin banyak tanggung jawab yang menanti di depan.

Tanggung jawab sebagai seorang hamba kepada Sang Khaliq
Tanggung jawab sebagai seorang anak kepada orang tua
Tanggung jawab sebagai seorang lelaki sejati yang suatu saat akan menjadi suami sekaligus seorang ayah

dan masih banyak tanggung jawab yang lainnya.
Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan dan keistiqomahan untuk menjalankan semua amanah dan tanggung jawab itu.

Special thanks to :

  • Allah SWT & Muhammad SAW - "Sang Pembawa Risalah"
  • My Beloved Parents & Sista
  • Semua teman-teman & sahabatku yang masih mau menyisakan sedikit ruang dalam ingatan dan menuliskan di sana tanggal 23 November 1984 sebagai tanggal lahir seorang "Gunawan Prasetyo".

Makasih atas semua ucapan dan doanya baik itu lewat SMS (Silvi, Risma, Snel, Adheet, Ajijah, Ade HP, Cahyo, Cicky), testimonial di FS (Ihsan, Rico, Abas, Dana, Oppie), message di FS (Yunita, Risma), chatting di YM (Anggi, Jenggot, Didin), telpon (mas Budi, my Sista), atopun face to face (Intan Yusantina, Ramon, Desiyana, Satrio, Primbon, Tepe & anak-anak HMIF) dan masih banyak lagi nama-nama yang ga bisa disebutkan di sini.

Makasih tlah membawaku sampai di titik persinggahan usiaku yang ke-22. Sungguh kehadiran teman-teman & sahabat membuat hidupku terasa lebih berarti. Maaf banget kalo ga bisa nraktir semuanya…

Bandung, 29 November 2006 
01:37 A.M

Kau

Monday, November 20th, 2006

kau hadirkan lagi sejuta misteri
di balik kesunyian dirimu
di antara dinginnya tatapanmu

kau terbangkan semua kenangan
bersama luruhnya harapan
tiada lagi ku tahu
asa yang masih tersisa

bayangan itu masih terpahat di hati
dan masih saja terukir
meski harusnya tak lagi di sini

dan kini
angan itu tlah terkubur
teriring berbagai kenangan dan kisah
dan di sana
kutuliskan di nisan hatiku
“Bidadari yang tlah pergi”

Bandung, 16 November 2006 12:28 WIB -dengan sedikit perubahan-

bubur bayi

Thursday, November 9th, 2006

Malam ini begadang lagi. Ada beberapa kerjaan yang belum beres, padahal jam 7 pagi ntar adalah DEADLINE-nya. Dan seperti biasa, kayaknya bakalan ga tidur lagi. Sekarang aja jam di kompie tersayang udah nunjukin jam 2:54 AM. Berarti kurang lebih sejam lagi udah adzan shubuh. Nanggung banget kalo mo dipake buat tidur. Bisa-bisa shubuh-nya kebablasan.
Tapi ada satu yang kelupaan……. cemilan !!!! Mana keadaan perut lagi laper banget nih.. Gawat Darurat.. Padahal tadi udah nenggak secangkir Indocafe Coffemix, trus 2 gelas Marquisa Juice yang dikasih ama Ramon, trus ditambah lagi bergelas-gelas aer putih….tapi ga tau kenapa rasa lapernya justru malah semakin akut. Coba nengok ke ‘gudang logistik’ yang ada di lab, ga ada satu makanan layak yang bisa dimakan…
Aduh……..parah banget !!!! Tapi, upsss…bentar. Ternyata di ‘gudang logistik’ ada Bubur SGM yang biasa buat bayi itu. Ahh…jadi inget, tuh bubur bayi kan yang dimasukin Mahfud beberapa hari yang lalu. Alhasil, bubur SGM yang seharusnya jadi makanan bayi akhirnya menjadi sasaran kebrutalanku yang lapar berat.
Yummy…….
Ternyata enak juga ya bubur bayinya. Apalagi sambil ngebayangin suatu saat nanti nyuapin bubur ke anakku. Bodo ah!!! yang penting kenyang.

Thanks banget buat Mahfud yang beberapa hari lalu iseng masukin tuh bubur ke tas. Ga nyangka, tuh bubur jadi penolongku di saat penderitaan seperti ini.

AccessNet Labs, 10 November 2006, 03:05 AM
–di saat sendiri dan kelaparan –

aku

Wednesday, November 8th, 2006


aku….
yang mencoba bangkit dari saat-saat jatuhku
yang saat ini coba menata kembali serpihan hidupku

aku…
yang coba memahami kekecewaan dari sudut lain
yang coba menerima kekalahan itu

aku….
ingin tetap tegak berdiri
dan terus melangkah
meski berulang kali terjatuh

karena jalanku masih sangat panjang
karena kini….
sebentuk pelangi yang hadir menjadi setitik nila
yang dengan terangnya menyinari hatiku
dan menjelma menjadi
MATAHARI

adapted from my Friendster account

ayah & bunda

Tuesday, November 7th, 2006
Malam ini sudah terlalu larut, tapi mata belum ingin terpejam. Selain badan juga belum terlalu capek, di sini masih ada beberapa kerjaan yang mengharuskan aku untuk melanjutkan aktivitas untuk mengarungi malam ini. Sepi banget. Semua temen-temen di lab udah terlelap dalam tidurnya. Tinggal aku sendiri ditemani komputer tersayangku dan segelas kopi hangat yang baru saja selesai aku seduh.
Dari windows media playerku perlahan terlantun lagu Bunda yang dibawain ama Naff. Liriknya kira-kira gini :


Naff - Bunda

tak pernah letih kau menuang kasih
tak pernah lelah kau menanam budi
menuntun setiap langkahku

tiada letih doamu mengalir
tetap memberi meski kau menangis
tuk jaga setiap khilafku

janganlah terhenti semua yang kau beri
tetaplah menjadi pelita hatiku
janganlah terhenti doamu mengalir
menaungi bijak langkah kakiku


Perlahan, pikiranku terbang melintasi sekian tempat dan menjelajahi ratusan kilometer menuju sebuah rumah di sebuah kota nun jauh di sana, di Gemolong. Terbayang seraut wajah dengan senyum manis dan wajah ayunya. Ya…..itulah bunda-ku. Entah kenapa tiba-tiba aku kangen beliau. Ingin sekali rasanya saat ini aku datang memeluknya, mencium pipi dan tangannya, dan berucap…..“aku sayang Bunda”.
Berikutnya, terlintas wajah ayahku yang meski sudah hampir menginjak usia 48 tahun, namun masih senantiasa kulihat ketegaran, kekuatan, dan keikhlasan di wajahnya dalam menghadapi hidup. Bagaimana kabarmu pagi ini ayah??? Aku rindu… Aku kangen…. akan semua petuah bijakmu tentang hidup yang seringkali engkau berikan pada anakmu ini.

Wahai ayah dan bunda….
Seluruh perjuangan hidupmu adalah pelajaran berharga bagiku yang senantiasa ingin aku abadikan dalam bingkai tauladan dalam hatiku. Setiap tetes keringat, untaian doa, dan derai air mata itu takkan pernah lepas dari ingatanku.

Wahai ayah dan bunda….
Maafkan aku, jika selama ini belum bisa memberikan yang terbaik untuk engkau.
Maafkan aku, jika ucap dan tingkah lakuku terkadang menyakiti dan mengecewakanmu.
Maafkan aku, jika terkadang doa tak terlantun untukmu.

aku sayang, aku rindu kepada engkau wahai ayah dan bunda…..

Rabbighfirli wa liwalidaya warhamhuma kamaa rabbayani saghiraa..
Ya Allah, ampuni mereka dan jagalah meraka dari api neraka-MU.

amien.

Dayeuh Kolot, 8 November 2006, 02:12:31 WIB
–ketika sendiri hadir di tengah aktivitas malamku–

 

darimu kubelajar

Monday, November 6th, 2006

..alaskan kepalamu di bantal kejujuran,
rebahkan dirimu di kasur keikhlasan,
selimutkan dirimu dengan kain kesetiaan,
dan tidurlah dalam keimanan…
thanks 4 all..

Sender :
+628564700xxxx
Sent :
30-Oct-2006, 21:10:30

Sebuah pesan singkat yang menyambutku setelah beberapa saat tiba di Bandung. Sejenak kumerenung tuk memahami pesan itu. Pesan pendek yang sungguh menggugah kesadaran akan semua khilafku selama ini. Sejenak kulayangkan kembali ingatanku akan sebuah fase hidup yang beberapa hari sebelumnya aku lewati. Saat itu aku sangat yakin, Allah akan memberikan yang terbaik untukku dan untuknya.
Ya Allah, Engkau sungguh Maha Kuasa. Menjadikan sebuah pelajaran hidup dari jalan yang tak pernah aku duga sebelumnya. Kini kumengerti arti sebuah ketulusan, kesabaran, keikhlasan dan makna sebuah kesetiaan.

Darimu lah aku belajar tentang sebuah ketulusan
Darimu lah aku mulai mengerti sebuah kesabaran
Darimu lah aku mulai memahami makna keikhlasan

Ya Allah, aku pasrahkan semua.

 

kutinggalkan, kutitipkan

Monday, November 6th, 2006

kutinggalkan lagi kota ini,
dengan sejuta kenangan dan harapan…

Padamu kutitipkan,
serangkai maaf atas semua salah & khilaf dari tutur lakuku…
dan,
terima kasih atas semua pelajaran & hikmah dari kejadian yang tlah kita lewati.

Pada-Nya kutitipkan,
rasa rindu, cinta, dan sayangku yang suatu saat kupersembahkan untuk
bidadari yang dijanjikan.

Stasiun Balapan, 30 Oktober 2006, 08:06 WIB
–Sesaat setelah kereta yang kan membawaku ke Bandung, perlahan meninggalkan Solo–